Woiwnews.com – Perubahan iklim tidak hanya menimbulkan dampak lingkungan semata, tetapi juga membawa konsekuensi serius terhadap kesehatan masyarakat. Salah satu penyakit yang mengalami peningkatan akibat perubahan ini adalah tuberkulosis (TB), yang hingga kini masih menjadi perhatian baik secara nasional maupun global.
Peningkatan suhu udara, perubahan pola curah hujan, serta kualitas air yang kian menurun menjadi sejumlah faktor yang memicu kemunculan dan penyebaran penyakit menular. Tak hanya tuberkulosis, beberapa penyakit lain seperti malaria, demam berdarah, chikungunya, kolera, diare, hingga tifus juga turut terdampak oleh perubahan kondisi iklim.
Peneliti dari Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dianadewi Riswantini, mengungkapkan bahwa terdapat keterkaitan kuat antara perubahan iklim dan penyebaran kasus TB, khususnya di wilayah Jawa Barat.
“Studi Climate Epidemiology yang kami lakukan bertujuan untuk memahami keterkaitan ini, serta menyusun langkah mitigasi dan adaptasi dalam menghadapi risiko kesehatan yang muncul,” jelasnya dalam sebuah webinar ilmiah, Rabu (14/5).
Diana menambahkan, hasil riset tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan kesehatan publik. Pemerintah perlu menyiapkan strategi adaptasi guna melindungi masyarakat dari ancaman kesehatan yang dipicu oleh iklim yang terus berubah.
Dalam penelitian bertajuk Potential Risk of New Tuberculosis Cases in West Java, tim riset BRIN melakukan pemetaan risiko spasial dan temporal terhadap penyebaran TB. Kajian tersebut menggunakan data dari tahun 2019 hingga 2022 yang diperoleh dari BPJS Kesehatan, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Open Data, dan data iklim dari Copernicus Climate.
Temuan penelitian ini mengidentifikasi Kabupaten Karawang, Majalengka, dan Kuningan sebagai wilayah dengan pola interaksi spasio-temporal yang tinggi terhadap sebaran kasus tuberkulosis baru. Artinya, peningkatan kasus di wilayah-wilayah tersebut terjadi secara signifikan baik dari segi ruang maupun waktu.
Lebih lanjut, Kabupaten Bogor, Sukabumi, Karawang, dan Bandung juga menunjukkan tingkat risiko relatif tinggi secara konsisten. Nilai risiko di wilayah-wilayah tersebut berada dalam rentang 1 hingga 15. Hal ini menandakan perlunya perhatian khusus terhadap strategi pengendalian dan pencegahan TB, terutama di Karawang yang tercatat memiliki risiko paling menonjol.
Dampak perubahan iklim tidak hanya terbatas pada penyakit menular. Gangguan pernapasan seperti asma dan alergi juga berpotensi meningkat akibat cuaca ekstrem. Paparan suhu panas yang intens turut memperbesar risiko penyakit kardiovaskular dan stroke, bahkan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian.
Selain itu, perubahan lingkungan yang drastis juga berpengaruh terhadap kondisi kesehatan mental masyarakat. Ketidakstabilan iklim yang terjadi secara berkelanjutan dapat menimbulkan tekanan psikologis dan stres yang berkepanjangan.
Dengan berbagai dampak yang ditimbulkan, perubahan iklim kini menjadi isu lintas sektor yang memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Langkah antisipatif perlu segera diambil untuk mencegah memburuknya krisis kesehatan yang mungkin terjadi di masa mendatang.













