Woiwnews.com – Peristiwa tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Selat Padar, Taman Nasional Komodo, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat Labuan Bajo. Insiden yang terjadi pada Jumat malam, 26 Desember 2025, tersebut menjadi salah satu kecelakaan laut paling menyita perhatian publik di kawasan wisata unggulan Indonesia. Kejadian ini tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga membuka kembali diskusi tentang aspek keselamatan pelayaran wisata di wilayah dengan karakter cuaca yang kerap berubah ekstrem.
Labuan Bajo selama ini dikenal sebagai destinasi super prioritas yang terus berkembang. Arus wisatawan domestik dan mancanegara meningkat seiring promosi pariwisata nasional. Namun, tragedi KM Putri Sakinah menjadi pengingat bahwa pertumbuhan sektor wisata harus diiringi dengan pengawasan ketat terhadap standar keselamatan, terutama di perairan terbuka seperti Selat Padar.
KM Putri Sakinah yang memiliki bobot 27 gross ton berangkat dari Pelabuhan Marina Waterfront Labuan Bajo pada Jumat siang sekitar pukul 13.00 WITA. Kapal tersebut mengangkut 11 orang, terdiri dari enam wisatawan asal Spanyol, satu pemandu wisata, serta empat anak buah kapal termasuk nakhoda. Salah satu penumpang adalah Fernando Martín Carreras, pelatih tim sepak bola wanita Valencia B, yang tengah berlibur bersama istri dan keempat anaknya.
Setelah mengunjungi Pulau Kambing dan menikmati makan malam, kapal kembali berlayar sekitar pukul 20.00 WITA menuju kawasan Pulau Komodo atau Pulau Padar. Namun, perjalanan malam itu berubah menjadi petaka. Sekitar 30 hingga 45 menit setelah berlayar, mesin kapal mendadak mati di tengah kondisi gelap dan cuaca buruk. Gelombang laut setinggi dua hingga tiga meter menghantam kapal yang kehilangan kendali. Dalam waktu singkat, kapal terbalik dan tenggelam di perairan sekitar 23 mil laut dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo.
Material kapal yang terbuat dari kayu ulin sebenarnya dikenal kokoh dan tahan terhadap kondisi laut. Meski demikian, dugaan awal menyebutkan bahwa anomali cuaca akibat pengaruh siklon tropis menyebabkan gelombang tinggi dan arus kuat yang sulit diprediksi. Kondisi ini menjadi faktor utama yang memperparah situasi saat mesin kapal tidak berfungsi.
Upaya penyelamatan awal dilakukan dalam kondisi yang sangat menantang. Hujan lebat, angin kencang, arus deras, serta minimnya pencahayaan malam hari menyulitkan proses evakuasi. Meski begitu, tim SAR gabungan yang melibatkan berbagai unsur berhasil menyelamatkan tujuh orang penumpang. Sebagian korban selamat dievakuasi dengan bantuan kapal wisata lain yang kebetulan melintas di sekitar lokasi kejadian.
Pencarian korban yang hilang berlangsung selama lebih dari dua pekan. Pada hari-hari awal operasi, tim menemukan serpihan badan kapal yang terbawa arus sejauh beberapa mil laut dari titik duga tenggelam. Temuan tersebut menjadi petunjuk penting bagi tim SAR untuk memperluas area pencarian, mengingat pola arus laut di Selat Padar berubah setiap beberapa jam.
Memasuki hari keempat operasi, tim SAR menerima laporan dari warga Pulau Serai mengenai penemuan satu jenazah perempuan yang mengapung di perairan sekitar pulau tersebut. Setelah dievakuasi dan melalui proses identifikasi medis, jenazah dipastikan sebagai salah satu anak perempuan dari Fernando Martín Carreras. Penemuan ini menjadi pukulan berat bagi keluarga korban, namun sekaligus memberikan kejelasan atas salah satu korban yang sebelumnya dinyatakan hilang.
Pencarian kemudian terus dilanjutkan dengan metode penyisiran laut, penyelaman, serta pemantauan wilayah pesisir. Pada hari ke-10, tim SAR kembali menemukan jasad Fernando Martín Carreras tidak jauh dari lokasi awal tenggelam. Dua hari berselang, satu jasad anak laki-laki berusia 10 tahun yang juga merupakan anggota keluarga korban berhasil ditemukan. Dengan demikian, dari empat korban warga negara Spanyol yang dilaporkan hilang, tiga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Hingga hari ke-15 operasi SAR, satu korban terakhir bernama Martines Ortuno Enriquejavier belum berhasil ditemukan. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan secara resmi menutup operasi pencarian pada Jumat, 9 Januari 2026. Keputusan tersebut diambil setelah seluruh prosedur pencarian dilaksanakan dan diperpanjang hingga beberapa kali, dengan mengerahkan peralatan tambahan serta personel berpengalaman.
Penutupan operasi SAR berlangsung di Pelabuhan Marina Labuan Bajo dan dipimpin oleh pemerintah daerah setempat bersama unsur SAR. Meski operasi resmi dihentikan, sebagian keluarga korban memilih tetap berada di Labuan Bajo dengan harapan adanya temuan lanjutan di kemudian hari. Suasana haru mewarnai prosesi penutupan, mencerminkan duka mendalam sekaligus penghormatan atas kerja keras tim SAR selama proses pencarian.
Tragedi KM Putri Sakinah menjadi catatan penting bagi pengelolaan wisata bahari di Labuan Bajo. Peristiwa ini diharapkan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan pelayaran, kesiapan menghadapi cuaca ekstrem, serta koordinasi antarpemangku kepentingan demi mencegah kejadian serupa di masa mendatang.













