Woiwnews.com – Film Garuda di Dadaku kembali menyapa publik Indonesia dengan format yang berbeda. Setelah pertama kali hadir sebagai film layar lebar pada 2009 dan melekat kuat dalam ingatan generasi 2000-an, kisah inspiratif ini akan dirilis ulang dalam versi animasi yang dijadwalkan tayang pada 2026. Proyek ini menandai langkah baru dalam pengembangan intellectual property (IP) lokal yang berupaya menjangkau audiens anak-anak dan keluarga melalui pendekatan visual serta narasi yang lebih segar.
Versi animasi Garuda di Dadaku diproduksi oleh BASE Entertainment bekerja sama dengan Kawi Animation. Film ini dirancang sebagai tontonan keluarga yang menekankan kekuatan cerita, kedekatan emosional, serta nilai-nilai universal yang relevan lintas generasi. Melalui medium animasi, kisah lama diolah kembali dengan sudut pandang yang lebih hangat dan fokus pada perjalanan karakter.
Produser BASE Entertainment, Shanty Harmayn, menjelaskan bahwa Garuda di Dadaku memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, versi animasi ini dihadirkan sebagai upaya memperkenalkan kembali cerita tersebut kepada generasi baru tanpa kehilangan esensi utamanya. Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada karakter dan emosi anak, sehingga pesan cerita dapat tersampaikan secara lebih personal dan relevan dengan konteks masa kini.
Dari sisi cerita, film ini berpusat pada Putra, seorang anak berusia 13 tahun yang menyimpan mimpi besar untuk menjadi pesepak bola andal. Kehidupannya berubah ketika ia bertemu dengan Gaga, sosok burung Garuda penuh energi yang menjadi pusat emosi sekaligus humor dalam cerita. Pertemuan keduanya menjadi awal dari petualangan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat makna.
Gaga digambarkan memiliki kekuatan magis dan misi khusus untuk membantu Putra mewujudkan mimpinya. Meski sering terlibat perbedaan pendapat, hubungan Putra dan Gaga berkembang menjadi ikatan persahabatan yang kuat. Keduanya tidak ditampilkan sebagai sosok yang sempurna. Sebaliknya, mereka sama-sama belajar menghadapi keraguan, kegagalan, dan proses bertumbuh melalui langkah-langkah kecil yang penuh usaha.
Lebih dari sekadar cerita tentang sepak bola, Garuda di Dadaku versi animasi mengangkat tema keberanian, persahabatan, dan tekad. Dinamika antara Putra dan Gaga menjadi nadi cerita yang membawa penonton pada perjalanan emosional seorang anak dalam mengejar cita-cita. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun kedekatan dengan penonton muda, sekaligus menghadirkan nostalgia bagi penonton yang telah mengenal versi sebelumnya.
Film ini melibatkan sejumlah pengisi suara dari berbagai latar belakang. Keanu Azka dipercaya mengisi suara Putra, menandai debutnya sebagai pengisi suara dalam film animasi. Quinn Salma mengisi karakter Naya, sementara Revalina S. Temat berperan sebagai Dewi Garuda. Adapun karakter Gaga dihidupkan oleh Kristo Immanuel, yang dikenal luas melalui kemampuan vokal dan impersonasinya.
Dalam proses produksi, Keanu Azka mengungkapkan bahwa membangun chemistry dengan Kristo Immanuel menjadi bagian penting dalam menghidupkan hubungan Putra dan Gaga. Interaksi keduanya selama rekaman turut memperkuat dinamika karakter di dalam cerita. Di sisi lain, Kristo melakukan berbagai eksperimen suara untuk menemukan karakteristik vokal yang sesuai dengan sosok burung Garuda yang enerjik dan jenaka.
Dari aspek teknis, film ini disutradarai oleh Ronny Gani, seorang animator dan visual effects artist dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri animasi internasional. Pengalamannya terlibat dalam berbagai film waralaba global membawa pendekatan visual sinematik yang dipadukan dengan penceritaan berbasis karakter. Hasilnya diharapkan mampu menghadirkan kualitas visual yang kompetitif sekaligus tetap berakar pada identitas lokal.
Menariknya, produksi film ini melibatkan lebih dari 300 animator lokal dari berbagai daerah di Indonesia. Proses pengerjaan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan belasan studio animasi yang tersebar di sejumlah kota, mulai dari Bali, Malang, Bogor, Yogyakarta, hingga Bandung. Keterlibatan animator dari berbagai wilayah ini mencerminkan upaya penguatan ekosistem industri animasi nasional.
Secara keseluruhan, Garuda di Dadaku versi animasi 2026 hadir sebagai proyek yang tidak hanya mengandalkan kekuatan nostalgia, tetapi juga menawarkan pembaruan dari sisi visual, karakter, dan pendekatan cerita. Dengan menggabungkan pengalaman sineas berkelas internasional dan potensi kreatif animator lokal, film ini diharapkan mampu menjadi tontonan keluarga yang bermakna serta memberikan kontribusi positif bagi perkembangan animasi Indonesia.













