Woiwnews.com – Seorang nelayan asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, bernama Sugianto (31), mendadak menjadi sorotan publik setelah aksi kemanusiaannya di Korea Selatan mendapat pengakuan resmi dari negara setempat. Sugianto, yang sehari-hari bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di sektor perikanan, menerima penghargaan langsung dari Presiden Korea Selatan atas keberaniannya menyelamatkan tujuh warga lanjut usia saat terjadi kebakaran hutan besar di wilayah Yeongdeok, Provinsi Gyeongsang Utara, pada Maret 2025.
Peristiwa tersebut terjadi ketika kebakaran hutan meluas dengan cepat dan mengancam permukiman warga. Api yang semakin membesar membuat sejumlah rumah terjebak dalam kepungan asap dan panas. Dalam situasi genting itu, Sugianto yang berada di sekitar lokasi tidak memilih menyelamatkan diri terlebih dahulu. Sebaliknya, ia berinisiatif mendatangi rumah-rumah warga yang terdampak untuk memastikan tidak ada orang yang tertinggal.
Menurut penuturannya, saat itu Sugianto mendapati sejumlah lansia berada di dalam rumah dalam kondisi panik dan kesulitan bergerak. Tanpa mempertimbangkan risiko terhadap keselamatannya sendiri, ia membangunkan para lansia tersebut. Ia kemudian menggendong mereka yang tidak mampu berjalan dan menuntun yang lainnya menuju tempat yang lebih aman. Berkat tindakan cepat tersebut, tujuh orang lansia berhasil diselamatkan dari ancaman kebakaran, dan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Aksi kemanusiaan itu kemudian mendapat perhatian dari otoritas setempat. Pemerintah Korea Selatan menilai tindakan Sugianto sebagai kontribusi luar biasa dalam situasi darurat. Atas dasar itu, negara memberikan penghargaan resmi sebagai bentuk pengakuan tertinggi atas keberanian dan kepedulian terhadap sesama. Penghargaan tersebut diserahkan langsung dalam sebuah acara kenegaraan yang dihadiri oleh sejumlah tokoh dan warga Korea Selatan.
Sugianto mengaku tidak pernah membayangkan akan menerima penghargaan dari kepala negara asing. Ia menyebut pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang di luar dugaan dalam hidupnya. Bahkan, ia menjadi satu-satunya warga negara Indonesia yang menerima penghargaan dalam acara tersebut. Bagi Sugianto, kesempatan untuk hadir dan bertemu langsung dengan Presiden Korea Selatan merupakan pengalaman yang tidak pernah terlintas sebelumnya.
Kabar mengenai penghargaan tersebut juga mendapat perhatian luas di Indonesia. Di berbagai platform media sosial, nama Sugianto ramai diperbincangkan dan mendapat banyak apresiasi dari masyarakat. Meski demikian, Sugianto menanggapi hal tersebut dengan sikap sederhana. Ia berharap kisah yang dialaminya dapat memberikan dorongan positif bagi PMI lainnya yang bekerja di berbagai negara.
Selain penghargaan simbolik, pemerintah Korea Selatan juga diketahui tengah mempertimbangkan pemberian visa tinggal jangka panjang kategori F-2 kepada Sugianto. Visa tersebut biasanya diberikan kepada warga asing yang dinilai memberikan kontribusi signifikan bagi negara. Meski prosesnya masih berjalan, rencana tersebut dipandang sebagai bentuk apresiasi lanjutan atas tindakan kemanusiaan yang dilakukan.
Saat ini, Sugianto masih menjalani pekerjaannya sebagai nelayan di Korea Selatan. Meski setelah peristiwa tersebut ia menerima sejumlah tawaran kerja dari berbagai pihak, Sugianto memilih untuk tetap bekerja di tempat lamanya. Ia menyampaikan bahwa lingkungan kerjanya saat ini sudah memberikan rasa nyaman dan telah ia anggap sebagai rumah kedua. Hubungan dengan pemilik kapal dan rekan kerja pun disebut sudah terjalin seperti keluarga.
Dalam kesempatan yang sama, Sugianto juga menyampaikan pesan kepada sesama PMI di mana pun berada. Ia mengajak para pekerja migran untuk tidak ragu membantu orang lain yang membutuhkan, tanpa memandang perbedaan kewarganegaraan, bahasa, maupun latar belakang. Menurutnya, nilai tolong-menolong merupakan kewajiban dasar sebagai sesama manusia, terlebih dalam situasi darurat.
Kisah Nelayan Sugianto menunjukkan bahwa peran PMI tidak hanya terbatas pada kontribusi ekonomi, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk kepedulian sosial dan kemanusiaan. Aksi spontan yang dilandasi empati tersebut tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga membangun citra positif pekerja migran Indonesia di mata dunia internasional.












